20140219

/#/1/

"Apasih yang lo mau dari gue? Udah berapa kali gue nyuruh lo untuk jauhin gue! Lihat sekarang! Lihat! Semua jadi berantakan kan? Apa ini, yang lo mau? Ini yang lo maksud dari semua akan baik-baik saja?"

Dia terdiam. Hening. Dia mencoba untuk berbicara. Hanya dia tidak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawab amarah si x. 

Lalu, Ia mencoba sekali lagi untuk membuka mulutnya-

"Kamu…kamu.." 

Diam.











"Kamu gak tau kan rasanya gimana? Kamu gak tau apa yang aku harus lalui setiap hari?"

Dia menghela nafas yang panjang.
"Apakah kamu pernah sekalinya berfikir tentang aku?"

Dia mulai berbicara. Tempo menjadi cepat.

"Enggak kan? Kamu gak tau pahitnya diacuhkan sama orang yang kamu paling cintai. Aku sering mengatakan kan, perasaan aku ke kamu? Aku sudah bilang ke kamu bahwa kamu itu satu-satunya orang yang bisa buat aku tersenyum? Bisa membuat aku ketawa? Kalau hidup tanpa adanya kamu; aku ini harus kemana? Aku harus gimana?"

Dia mulai meneteskan air mata. Dia pun tidak mengerti kenapa semua kata-kata tersirat emosi keluar pada saat itu. Mungkin karena Ia sering memikirkannya, namun selalu Ia telan. Ia simpan sampai pada akhirnya, hal ini terjadi. 

Dan mereka berdua tahu. Tahu bahwa semuanya tidak akan baik baik saja. Dan, tidak akan pernah.

3 comments:

  1. Wow. Just wow. I like this. There is one small thing that irks me though, you misspelled mulut.

    ReplyDelete
  2. cheer up ya :) semua akan baik baik aja kok, hampir semua orang pernah melewati masa seperti itu, they succeed, dan mereka jadi lebih bijaksana. Tuhan punya kejutan kejutan manis yang kadang ga pernah kita bayangkan. ayo badannya di tegakkan, dagunya diangkat :p

    ReplyDelete

archive